Corgi

Anda adalah pengunjung ke

Selasa, 10 April 2018

JELAJAH NUSANTARA DI TANA TORAJA SEKARANG LEBIH HEMAT BERSAMA SKYSCANNER


A: Apakah PULANG KAMPUNG dengan JELAJAH NUSANTARA itu sama?
B: Sama dong. Pulang kampung atau jelajah nusantara sama-sama penting dan sama-sama harus punya perencanaan yang tepat.


Saya aslinya suku Toraja, tetapi lahir di Kalimantan Timur. Selama 20 tahun saya tidak pernah yang namanya keluar provinsi apalagi pulang kampung. Tepat dibulan Juni 2015, saya dan seluruh keluarga besar saya berencana pulang kampung ke Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Rencana ini sudah dibuat sejak 3 tahun yang lalu. Tana Toraja sangat terkenal dengan kopinya. Mungkin bagi sahabat pembaca yang seorang pecinta kopi, sudah tahu rasa khas dari kopi Toraja. Selain itu Tana Toraja sangat sejuk dan dingin. Banyak bukit tinggi dan suasananya masih pedesaan.

Pasti Sahabat pembaca pada binggung, apa susahnya sih pulang kampung? Toh kenapa mesti direncanakan sejak 3 tahun lalu? Emangnya kampungnya sejauh apa?

Ini bukan masalah jarak ya sahabat. Ini masalah materi, kami sekeluarga butuh uang yang banyak untuk terbang ke Tana Toraja itu. Butuh uang banyak bukan juga buat liburan satu keluarga. Saya dan seluruh keluarga besar saya serentak pulang ke Tana Toraja saat itu, tak lain untuk mengadakan acara tradisi pemakaman untuk mendiang nenek saya yang telah ditunggu-tunggu sejak 3 tahun lalu. Acara itu paling sedikit menghabiskan ratusan juta.

Pasti lagi deh, beberapa sahabat pembaca kebingungan, kog bisa 3 tahun baru dapat dimakamkan?

Acara pemakaman ini dikenal dengan upacara Rambu Solo. Upacara yang amat sakral bagi suku kami. Tak heran jika selama hidupnya, mayoritas masyarakat Toraja bekerja keras untuk mengumpulkan kekayaan. Namun, harta yang diperoleh bukan untuk hidup mewah. Sejatinya mereka menabung untuk keperluan kematian mereka maupun kematian keluarga mereka kelak. Setelah tabungan para keluarga itu dirasa cukup, mereka mengundang semua teman-teman dan kerabat dari seluruh daerah untuk menghelat ritual ini. Saya paham, jika bapak saya begitu bertekad menjual sebagian dari perkebunan sawitnya untuk membawa kami sekeluarga pergi menghadiri upacara pemakaman nenek saya, orang tua kandung dari ibu saya. Prosesi pemakaman yang dianggap mewah ini sebagai tanda penghormatan terakhir bagi mendiang nenek saya. Jadi, tak heran apabila saudara-saudari dari ibu saya juga turut mengambil bagian untuk berlangsungnya acara Rambu Solo ini.

Sebelum sahabat pembaca membaca lebih jauh mengenai cerita saya di atas, ada baiknya saya berbagi sedikit pengalaman perjalanan saya ke kampung halaman saya tersebut.

Saya tinggal di Kota Bontang saat itu. Rumah saya tidak jauh dari pelabuhan dan juga rombongan keluarga saya cukup banyak. Jadi, berangkat dengan sebuah kapal laut adalah pilihan kami. Untuk berangkat dengan pesawat terbang mungkin akan cukup mempersingkat perjalanan kami. Namun, kami harus melewati dua kota untuk sampai ke Bandara. Memilih perjalanan dengan kapal adalah pilihan terdesak saat itu, walaupun harus rela berlayar 2 hari 2 malam. Itu adalah perjalanan pertama saya keluar provinsi, dan juga pertama kali saya melakukan perjalanan dengan kapal laut. Sungguh, diluar dugaaan saya. Sebetulnya bagi yang tidak biasa dengan perjalanan tersebut pasti akan tidak nyaman. Merasakan mabuk laut. Merasakan dinginnya angin laut ketika malam hari dan yang terlintas hanya ingin segera sampai.

Ketika kapal telah tiba di pelabuhan Pare-pare, hati saya cukup senang karena sedikit lagi kami akan sampai. Namun, lagi-lagi diluar dugaan saya. Kami harus menunggu bis penuh untuk mengantarkan kami sekeluarga menuju kampung Ibu saya, yang berada di Kabupaten Toraja Utara, daerah Buntu Batu. Ada sekitar 6 jam perjalanan untuk benar-benar tiba di kediaman mendiang nenek saya. Saya pun protes kepada kakak saya yang lebih memilih perjalanan yang merepotkan ini. Padahal dengan naik pesawat, waktu kami akan lebih singkat. Mungkin hanya menghabiskan waktu selambat-lambatnya 15 jam saja dari Kota Bontang hingga tiba di rumah mendiang nenek saya.

“Ikuti saja. Kita berhemat, nanti di tempat nenek pasti banyak biaya keluar?" Kata kakak saya.

OMG... Padahal jika dihitung-hitung biaya naik kapal dengan naik pesawat, bedanya hanya sedikit saja. Entah apa yang ada dipikiran kakak saya saat itu. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, sebab ini adalah perjalanan pertama saya.

5 jam kemudian kami pun tiba tepat jam 22.00 WITA di Kota Rantepao (Ibukota Kabupaten Tana Toraja). Kami masih membutuhkan sekitar 1 jam perjalanan lagi untuk sampai ke tujuan utama, desa Buntu Batu. Berhubung perjalanan kami tidak dapat dilanjutkan dengan bus, akhirnya kami menginap malam itu di rumah Paman saya. Keesokan harinya kami baru bisa melanjutkan perjalanan kami. Pastinya dengan menyewa transportasi yang lebih memadai seperti mobil. Jujur ini adalah perjalanan pertama saya ke luar provinsi yang begitu memakan waktu banyak. Perjalanan pertama yang tidak rencanakan dengan tepat.
Rumah Tongkonan dan panggung jenazah
(Kakek saya yang memegang foto mendiang nenek saya)
Siang hari, kami sekeluarga pun tiba di rumah mendiang nenek saya. Cukup melelahkan, tetapi kami disambut dengan hangat oleh keluarga di sana. Mereka menyambut kami dengan bahasa daerah yang sedikit sulit untuk saya pahami. Saya lalu menuju Rumah Tongkonan untuk melihat peti jenazah nenek saya. Rumah Tongkonan ini adalah rumah tinggal keluarga saya di Toraja, sekaligus tempat jenazah  nenek saya disimpan selama 3 tahun sebelum dimakamkan nanti. Masyarakat di sini menyebut tradisi menyimpan jenazah di dalam rumah (Tongkonan) dengan istilah “To Makula” artinya jenazah nenek saya disimpan dan dianggap sebagai orang yang sakit sampai pada rangkaian pemakaman. Tidak ada rasa takut ataupun berbau menyengat sekalipun. Semua orang di situ terlihat sukacita karena pemakaman yang ditunggu-tunggu selama 3 tahun akan segera berlangsung selama satu minggu.

"Kami menyebut upacara pemakaman ini sebagai pesta dengan istilah Rambu Solo karena memang terlihat seperti pesta yang meriah dan megah. Namun, bukan bertujuan untuk menghambur-hamburkan uang, melainkan untuk pengabdian dan penghormatan kepada orang yang meninggal dan para leluhur. Kemegahan dan kesempurnaan upacara Rambu Solo ini adalah sebagai patokan terhadap nasib arwah yang meninggal. Menurut kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo), upacara ini untuk menentukan arwah tersebut agar dapat mencapai tingkat yang setara dengan dewa. Tradisi ini masih terus dipraktikan oleh suku kami meskipun sudah banyak masyarakat Toraja memeluk agama Protestan maupun Katolik.
Dua hari saya menetap sementara di rumah Tongkonan mendiang nenek saya. Hal yang saya lakukan adalah membantu ibu saya menyambut tamu dari kerabat lain, seperti kerabat dari bapak saya, masyarakat sekitar kampung, dan juga turis mancanegara yang datang. Selama seminggu begitu banyak acara yang disajikan. Mulai dari acara "Sisemba" atau adu kaki. Juga dilakukan prosesi ma’badong yaitu, orang-orang berkumpul membentuk lingkaran dengan menyanyikan syair bahasa Toraja sembari proses pemindahan jenazah nenek saya dari rumah Tongkonan ke panggung jenazah.
Prosesi Ma'badong yang dinyanyikan oleh para laki-laki Toraja saat siang ataupun malam
Ritual terakhir dan terpenting dari upacara ini adalah iring-iringan keluarga dan pelayat yang mengantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir. Para keluarga diharuskan bersama-sama memegang kain raksasa yang panjang dan berwarna merah di kepala. Kain merah raksasa dibentangkan untuk membuka jalan bagi mendiang menuju "Puya" (Surga).
Kain merah raksasa dibentangkan untuk membuka jalan bagi mendiang dalam menuju "Puya" (Surga)
Nah, sebelum saya ikut dalam ritual terakhir dan terpenting di atas. Saya diberi kesempatan oleh bapak saya untuk menjelajahi destinasi yang ada di Kabupaten Tana Toraja. Woooo... ini yang saya tunggu-tunggu. Pastikan sahabat pembaca membaca artikel saya ini sampai bawah ya, karena ada begitu banyak destinasi menarik yang harus sahabat pembaca kunjungi.

Saya berkesempatan pergi bersama kedua sepupu saya, dan adik bapak saya (tante) untuk mengelilingi destinasi di Kabupaten Tana Toraja. Dua hari mungkin adalah waktu yang amat singkat untuk menjelajahi salah satu nusantara yang sangat diminati oleh turis mancanegara. Dan pagi-pagi sekali, kami mendatangi sebuah agen travel. Kami mencari penyewaan mobil agar dapat membawa ke tujuan destinasi pertama kami. Namun, hampir sejam kami mencari tempat agen travel itu, karena kami mencari harga yang murah. Ini perencanaan yang kurang tepat karena menurut saya super ribet dan sangat membuang waktu saya. Akhirnya kami mendapatkan salah satu mobil yang dapat mengantarkan kami ke tujuan destinasi pertama kami, meskipun kami harus membayar harga sewa mobil selama 2 hari dengan tarif sewa yang terbilang cukup mahal.

1. KETE KESU
 
Deretan Rumah Tongkonan yang diperkirakan sudah berumur 300 ratus tahun
Destinasi pertama saya yaitu, KETE KESU yang merupakan salah satu desa di kawasan Tana Toraja yang dikenal karena adat dan kehidupan tradisional masyarakatnya. Letaknya berada di sebelah Selatan Kota Rantepao. Perjalanan ke Kete Kesu ini hanya sekitar 4 KM jika ditempuh dari pusat Kota Rantepao. Kebetulan saat berkunjung ke tempat ini, sedang digelar upacara pemakamam yang mewah juga loh.
Kerbau Bule (Tedong Bonga) adalah kerbau termahal di dunia dan selalu bisa dijumpai di Kete Kesu
Sekarang saya lanjut ke destinasi utama saya yang saya sudah saya impi-impikan sejak masih kelas satu SMA. Tempat tersebut masih di kawasan Kete Kesu, yaitu Kuburan Kete Kesu. Mungkin kalian yang pertama kali berkunjung ke tempat ini akan sedikit takut melihat tengkorak dan tulang belulang yang tertumpuk seperti pada dokumentasi foto yang saya tampilkan di bawah ini.
Kumpulan tengkorak dan tulang belulang dari jenazah nenek moyang kami yang sudah berumur ratusan tahun
Ini bukanlah tengkorak dari jenazah korban yang mati sia-sia karena penjajahan ya, karena tengkorak ini adalah murni jenazah dari nenek moyang kami yang dimakamkan dengan tradisi kami. Duh kebayangkan betapa Tana Toraja menyimpan kekayaan Budaya serta keindahan alam yang amat luar biasa. Jadi, jangan heran jika saat berkunjung ke Tana Toraja sahabat pembaca akan menemui banyak turis asing dari  berbagai Mancanegara.
Beberapa tengkorak yang sudah berumur ratusan tahun dikumpulkan dalam satu peti kayu.
Di kuburan batu yang berkesan ini, saya bertemu dengan seorang turis dari Inggris. Beliau dan istrinya memiliki badan yang besar dan sangat tinggi. Namanya Mr. John, perkenalan saya dengan Mr. John sebelumnya karena saya yang ingin berfoto dengannya. Saya terkagum-kagum dengan bentuk tubuhnya yang tinggi dan besar. Perkenalan dan pertemuan dengan Mr John membuat saya bisa memanfaatkan perjalanan 7 kali lipat lebih berarti. Saya pun tahu trik jitu perjalanan dari Mr. John, khususnya bagi traveling pemula seperti saya ini.
Tubuh besar Mr. John dan awal perkenalan kami
(Tolong abaikan foto badan saya yang kecil ini)
Nah, mau tahu tips jitu dari Mr. John itu seperti apa ?  Silahkan baca terus postingan saya ini sampai habis ya !!!

Kami berbincang cukup lama, syukurlah saya paham bahasa Inggris jadi saya lebih mudah berkomunikasi dengan mereka. Mereka berkeliling menjelajah nusantara, khususnya Tana Toraja selama sebulanan tenyata tanpa menyewa guide khusus loh. Saya cukup percaya karena tidak ada yang perlu ditakutkan untuk menjelajahi nusantara Tana Toraja karena masyarakat di sini terkenal dengan keramahannya.

“Tetapi bagaimana dengan mencari hotel murah ataupun sewa mobil? Bukankah liburan selama sebulan pasti membutuhkan biaya yang begitu banyak?" tanyaku.

Lah, ternyata Mr. John punya tips liburan hemat dan cerdas yang membuatnya sampai begitu beta menetap di Tana Toraja. Tips jitu dari Mr. John adalah SKYSCANNER.

Jadi, Skyscanner sebenarnya adalah sebuah metasearch untuk tiket penerbangan, hotel, dan penyewaan mobil, bukan seperti online travel agent yang menjual tiket-tiket penerbangan, hotel, dan lainnya. Ini adalah Situs pencarian perjalanan global terkemuka yang menyediakan perbandingan harga secara online dan cepat dengan jutaan penerbangan lebih dari seribu maskapai penerbangan, penyewaan mobil, dan hotel.



Jujur saat itu SKYSCANNER adalah hal yang baru buat saya. Awalnya saya pikir ini situs luar yang pasti pas dikantong mereka tapi nggak pas dikantong saya. Eitssss ternyata saya salah, sebab Skyscanner adalah satu-satunya fitur praktis yang menawarkan harga terbaik dan termurah tanpa biaya ekstra. Apabila sejak awal saya kenal Skyscanner sebelum terbang ke Tana Toraja, mungkin saya dan sekeluarga sudah merencanakan sweet escape yang simple, akurat, dan cepat. Tentunya dapat berhemat lebih banyak tanpa harus naik kapal laut (hiks hiks  hiks hiks). Perjalanan saya ke Kete Kesu pun tak perlu lama menunggu dan mencari penyewaan mobil secara manual di agen travel.

Pertemuan singkat yang masih berkesan sampai saat ini saya keep dulu. Mr. John masih ingin menikmati liburannya di Kete Kesu dan saya harus melanjutkan perjalanan saya ke destinasi berikutnya. Tidak lupa sebelum pergi, saya sudah men-download aplikasi Skyscanner tersebut di smartphone saya. Aplikasi tersebut adalah aplikasi yang paling banyak dicari dan diunduh secara online oleh masyarakat dunia. Jadi, mau unduh aplikasinya di smartphone, tablet ataupun dekstop silakan aja.

Klik gambar di bawah ini untuk mengarahkan sahabat pembaca agar dapat mengunduh aplikasi Skyscanner pada smartphone.
https://www.skyscanner.co.id/bergerak.html

2. MATA AIR TILANGA
Mata Air Tilanga terletak di Kecamatan Makale Utara, perjalanan ke kolam pemandian yang berukuran 15 x 25 meter ini hanya berjarak 15 KM dari Kota Rantepao, Tana Toraja. Ketenangan dan kesejukan bisa kalian rasakan di pemandian alam ini. Sangat dilarang keras membawa hal-hal yang dapat mencemari air di kolam tersebut. Terbukti air di Mata Air Tilanga ini memiliki kejenihan yang luar biasa dengan warna bening kehijauan.
Suasana sejuk dan alami dari Kolam pemandian Mata Air Tilanga
Di sini, kalian akan menemui banyak anak-anak kecil yang juga tinggal di kampung ini. Selain suka berenang, ternyata mereka sangat suka mencari belut dengan berbekal telur bebek rebus sebagai pancingan. Mereka memancing hanya untuk melihat saya dan tidak untuk ditangkap. Uniknya tidak sembarang orang dapat melihat belut purba yang katanya berkuping tersebut. Masyarakat di sini menyebut belut tersebut dengan sebutan “Masapi”. Menurut cerita masyarkat di sini, pengunjung yang dapat melihat Masapi di kolam Tilanga akan memperoleh keberuntungan. Apalagi kalau bisa melihat Masapi dengan warna hitam perpaduan putih. Oleh karena cerita tersebut, juga sangat dilarang keras untuk dipancing sebab pada malam hari Masapi dipercaya keluar dari sarangnya pada tengah malam untuk membersihkan kolam tersebut.

3. BUNDARAN MAKALE
Perjalanan pulang kami dari dua destinasi tadi membawa kami ke Kecamatan Makale, salah satu pusat pemerintahan Kabupaten Tana Toraja. Dalam perjalanan menuju Makale, kami mencoba mencari hotel murah lewat aplikasi SKYSCANNER. Dihasil pencarian begitu banyak penawaran dengan harga hotel yang termurah dan masih di Kecamatan Makale. Yuhuuuu senang bukan main. Pilihan kami pun jatuh kepada Hotel Sahid Toraja. Selain mendapatkan harga penawaran hotel termurah dan terbaik, kami juga berencana bersantai ria menikmati Bundaran Makale yang tidak jauh dari hotel pilihan kami atas rekomendasi Skyscanner.

Berikut ini adalah contoh cara mencari dan memesan hotel murah di Kabupaten Makale dengan aplikasi Skyscanner melalui desktop. Hanya membutuhkan 3 langkah mudah :

1. Pilih HOTEL
-Tetapkan wilayah,
- Pilih tanggal check in dan check out
- Isi juga jumlah tamu dan jumlah kamar
2. Anda dapat mengurutkan hasil pencarian hotel berdasarkan kebutuhan Anda. Contohnya saya memilih berdasarkan “Jarak ke pusat kota”
3. Pilihlah penawaran terbaik dari harga hotel dari Skyscanner sesuai kebutuhan Anda. Untuk melakukan transaksi selanjutnya dapat meng-klik “Lihat Transaksi”


Anda akan dialihkan ke situs pilihan hotel yang Anda inginkan untuk melakukan pembayaran.

Klik juga disini untuk tahu Tips Mendapatkan Harga Hotel yang Lebih Murah.
Senja menjelang malam, kami beristirahat sejenak di Hotel Sahid Toraja. Kami berempat menikmati segelas kopi Toraja. Kopi Arabika khas Toraja ini bisa kita temui di seluruh kafe-kafe di Indonesia bahkan di belahan dunia. Toraja tidak hanya didominasi sebagai tradisi pemakaman termahal di dunia. Adanya sensasi dan aroma kopi Toraja pun sudah membuat nusantara Indonesia dikenal dunia.  Bahkan 40 % kopi yang dikonsumsi di negara Jepang adalah kopi Toraja. Jadi jika menjelajahi Tana Toraja, jangan lupa merasakan kopi Arabika ini ya. 

Bundaran Makale adalah ikon dari Kecamatan Makale dengan patung "Lakipadada"

Malamnya kami menghabiskan waktu di Bundaran Makale. Kata sepupuku yang pernah kuliah di Universitas Kristen Toraja (sebuah Perguruan Tinggi Swasta yang tepatnya berseberang dengan Bundaran Makale) berkata jika patung “Lakipadada” yang menjadi ikon di Kecamatan Makale tersebut adalah salah satu tokoh bangsawan Toraja. Kisahnya panjang, kalian harus menjelajah ke sini deh biar bisa mengorek lebih jauh sejarah dari Bundaran Makale ini.
Sejuk dan indahnya gemerlap lampu di Bundaran Makale
Selain sejuk dan dimanjakan dengan jajanan yang berada di kawasan ini, kalian juga akan merasakan kenyamanan serta keamanan yang disediakan di tempat ini.
 
4. LONDA
Dihari kedua ini adalah hari terakhir kami menjelajah objek wisata di Tana Toraja. Sebelum akhirnya kami kembali ke upacara pemakaman mendiang nenek saya. Sebenarnya masih begitu banyak destinasi yang ingin saya kunjungi, tetapi Londa adalah destinasi pilihan saya yang wajib dikunjungi. Objek wisata Londa berada di jalan poros Makale - Rantepao. Sekitar 23 menit perjalanan dari kabupaten Makale untuk sampai ke objek wisata ini jika ditempuh dengan kendaraan.

Ketika baru sampai di Londa, saya terkagum-kagum karena banyak sekali bukit batu yang menjulang tinggi. Tidak jauh berbeda dengan kuburan Kete Kesu. Kita juga akan menjumpai banyak sekali patung kayu (tau-tau) yang meyerupai wajah jenazah yang dimakamkan di objek wisata kuburan Londa. Sama seperti di Kuburan Kete Kesu, ada juga beberapa peti mati dari kayu, yang dalam bahasa Toraja disebut "Erong". Peti mati tersebut merupakan milik para bangsawan, jadi jika semakin tinggi letak peti mati tersebut maka, pertanda semakin tinggi pula kedudukan orang tersebut dihormati oleh masyarakat. Dipercaya juga, bahwa semakin tinggi letak peti mati tersebut, maka semakin dekat juga roh mereka menuju surga.
Peti mati, Erong dan patung tau-tau berjejer di kuburan batu Londa
Yang membuat objek wisata Londa atau kuburan Londa terkenal di mancanegara adalah karena pengunjungnya dapat secara langsung memasuki goa kuburan yang ada di Londa tersebut dan merupakan satu-satunya kuburan terbesar di Toraja Utara. Jangan takut jika masuk ke dalam Goa Londa ini ya, walaupun banyak kepala tengkorak berjejer dan peti jenazah yang sudah termakan usia. Tenang saja, saat memasuki Goa Londa kalian akan dipandu oleh penjaga objek wisata untuk masuk dan berkeliling goa. Pemandu sudah menyediakan sebuah lampu penerang. Soal tarif, pemandu hanya meminta seikhlasnya asalkan cukup membeli minyak untuk mengisi bahan bakar lampu penerang.

Spot foto terbaik di dalam kuburan Goa Londa
Kami berempat dan satu pemandu tersebut pun memasuki Goa Londa. Awalnya takut-takut karena ada juga peti mati yang sepertinya masih baru. Anehnya di dalam goa tersebut tidak ada aroma bau menyengat sedikit pun.
Deretan peti mati yang masih utuh
Ada kisah cinta menarik yang kami dapatkan dari pemandu tersebut. Sebuah sepasang tengkorak yang dikuburkan bersamaan di Goa Londa, kedua tengkorak tersebut diberi nama Romeo dan Juliet. Katanya hubungan percintaan mereka tidak direstui oleh orang tua, akhirnya mereka memilih untuk bunuh diri bersama dan kisah ini pun sudah dikenal luas masyarakat Toraja.
Sepasang sisa tengkorak kisah Romeo dan Juliet versi Toraja
Foto di bawah ini adalah salah satu gambar yang menarik untuk saya dokumentasikan dan sebagai daya tarik agar sahabat pembaca dapat segera ke sini untuk bisa menjelajahi nusantara Tana Toraja.
Sebuah peti mati beserta tengkorak yang masih diperlakukan seperti seseorang yang masih hidup
Sebuah tengkorak dalam peti mati yang mungkin sudah berumur ratusan tahun. Uniknya pengunjung diperbolehkan memberikan rokok, uang ataupun sirih kepada tengkorak atau jenazah tersebut, layaknya seperti masih hidup. Namun, tetap ada aturan bagi pengunjung di sini. Sama seperti aturan saat berkunjung ke kuburan Kete Kesu. Sangat dilarang untuk menyentuh atau memindahkan tengkorak-tengkorak yang ada di kuburan tersebut, sebab ada proses tersendiri dalam pemindahan tulang belulang, tengkorak bahkan benda-benda yang terdapat di kuburan Goa Londa tersebut. Jadi sebisanya menjadi turis yang baik ya guys πŸ‘πŸ‘πŸ‘.

Setelah menjelajahi 4 destinasi menarik di atas selama 2 hari, akhirnya saya pun kembali ke acara pemakaman mendiang nenek saya. Sayangnya, ternyata masih banyak destinasi yang tak kalah menarik selain 4 destinasi yang telah saya kunjungi. Objek wisata yang saya harapkan suatu saat bisa saya kunjungi ketika berlibur ke Toraja lagi adalah Lolai, tepatnya di Toraja Utara. Sebuah objek wisata yang dikenal dengan negeri di atas awan. Pernah nonton televisi, jika Ibunda dari Presiden kita Bapak Jokowi Widodo pernah berkunjung ke Lolai. Wah wah pasti begitu amat menarik objek wisata ini dan saya pun sampai kini masih penasaran seperti apa indahnya berada negeri atas awan tersebut?

Penasaran jugakan dengan semua destinasi, keunikan dan kekayaan tradisi budaya Toraja di sini??? Yuk segera UNDUH SKYSCANNER dan segera rencanakan perjalanan kalian untuk menjelajahi nusantara Tana Toraja bersama Skyscanner. Jika tidak ingin berangkat sekarang, kalian bisa mencari serta membandingkan hari dan bulan termurah untuk terbang dengan kalender berkode warna dan tampilan grafik dari Skyscanner.Pastinya kalian akan mendapatkan penawaran harga yang jauh lebih murah melalui Skyscanner.

Nah, ada tiga hari kedepan untuk menikmati detik-detik upacara sakral pemakaman mendiang nenek saya, sebelum harinya tiba untuk dimakamkan. Selama seminggu sejak saya tiba di Rumah Tongkonan mendiang nenek saya. Acara selalu diisi dengan tradisi adu kerbau (tedong silaga), penerimaan tamu dari kerabat keluarga bahkan turis asing sekalipun, ibadah siang dan malam, tarian ma’badong, juga pemotongan hewan seperti kerbau yang ditunggu-tunggu oleh banyak orang. Adapun daging-daging kerbau tersebut akan dibagikan kepada seluruh tamu, dan semua orang harus mendapat bagian.

Beberapa kerbau akan diadu dan sebagian kerbau lainnya untuk disembelih
Gambar di atas adalah dokumentasi pribadi milik saya selama acara hingga pada proses akhir pengantaran jenazah nenek saya ke kubur batu. 
Proses pengantaran jenazah nenek saya ke kuburan batu dengan arak-arakan sebagai tanda sukacita

Syukurlah hanya sekitar 100 meter dari Rumah Tongkonan untuk mengarak-arak jenazah nenek saya tersebut. Upacara yang kami tunggu selama bertahun-tahun serta tugas kedua orang tua saya untuk memakamkan mendiang nenek saya pun terbayar sudah. Kami semua mendoakan agar arwah mendiang nenek kami sudah tenang di surga.
Kuburan batu tempat jenazah nenek saya disemayamkan
Upacara telah berakhir, masih ada waktu dua hari dalam mempersiapkan segala sesuatunya untuk kembali ke kota kami masing-masing. Tetapi untuk perjalanan pulang, saya sudah punya perencanaan yang tepat untuk membawa keluarga saya kembali ke kota kami, kota Bontang. Tidak lagi sewa mobil dari agen travel yang terkenal cukup mahal, tidak juga pulang dengan kapal laut hingga bermalam berhari-hari.

Bolehlah, perjalanan kami ke Tana Toraja waktu itu sangat ribet dan memakan waktu banyak serta bisa dibilang perjalanan yang bisa bikin stress karena berhari-hari di kapal laut. Kini sudah ada suatu alat yang dibuat untuk mengungkapkan penawaran penerbangan terbaik dengan mudah dan tanpa stress, dan alat itu adalah batu loncatan yang terbaik untuk perjalanan apa pun. Yuupsss saya memilih memakai fitur aplikasi Skyscanner. Orang bule seperti Mr. John saja memilih tiket pesawat dari Inggris hingga sampai ke Indonesia hanya dengan aplikasi Skyscanner. Urusan sewa mobil atau transfer bandara bahkan sebulanan menetap di hotel di Tana Toraja semua beliau pilih dengan bantuan aplikasi online Skyscanner.

Penerbangan saya dan keluarga pun sudah direncanakan dengan sangat tepat. Penerbangan dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin (Kota Makassar) dengan penerbangan langsung ke Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (Kota Balikpapan), yaitu dengan dengan memilih Tiket Pesawat Garuda Indonesia.

Jujur saya belum pernah melakukan penerbangan kemanapun dengan pesawat terbang, tetapi untuk maskapai penerbangan Pesawat Garuda Indonesia memang sudah tak asing di telinga saya. Maskapai yang paling umum digunakan oleh orang banyak dan terkenal sebagai maskapai yang paling dicintai di Indonesia maupun di dunia. Bapak saya juga sangat merekomendasikan untuk memilih tiket pesawat Garuda Indonesia. Dua tahun lalu bapak saya jalan-jalan ke Jakarta dengan tujuan Pulang Pergi. Bapak saya mengakui kenyamanan tempat duduk di Pesawat Garuda Indonesia tersebut. Selain pelayanan baik yang diberikan, bapak saya juga mendapatkan makanan gratis serta snack dan kopi meskipun duduk di kelas ekonomi. Tingkat kepuasaan inilah yang membuat kami hanya melirik maskapai penerbangan pesawat Garuda Indonesia.
Kenangan tiket pesawat GARUDA INDONESIA dari Bandara UPG - BPN (06 JULI 2015)

Sekarang saatnya saya berikan contoh bagaimana cara memesan tiket pesawat Garuda, seperti tiket pesawat yang saya pesan di atas dengan aplikasi SKYSCANNER pada smartphone saya. Mari lihat seksama indografis di bawah ini:

Selama ini tertanam dalam pikiran saya, jika Tana Toraja itu sangat jauh dan untuk pulang ke Tana Toraja butuh biaya yang banyak. Saya akui benar adanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi itu hanya berlaku bagi kami yang pulang kampung dengan tujuan untuk acara pemakaman. Kalau hanya sekedar untuk jelajah nusantara di Tana Toraja, sahabat pembaca tidak usah memikirkan budget yang tinggi. Liburan hemat dan cerdas bisa sahabat pembaca dapatkan hanya dengan membuka situs Skyscanner ataupun menggunakan aplikasinya.

Nyesal deh kalau sampai nggak pakai aplikasi terpercaya ini. Aplikasi SKYSCANNER ini menawarkan fitur yang super menghemat dikantong para penjelajah nusantara ataupun bagi para sahabat pembaca yang sering melakukan penerbangan. Fitur tersebut hanya meng-klik tab “TELUSUR” pada bagian bawah diaplikasi. Terdapat tiga (3) pilihan menarik dari tab "TELUSUR" tersebut, yaitu :
1. “Kemana saja dan Kapan saja” dengan pilihan estimasi harga terendah. 


2. Wisata Akhir Pekan”. Jika sahabat pembaca sudah benar-benar membutuhkan liburan dan belum tahu hendak kemana, maka manfaatkanlah fitur ini. Sahabat pembaca juga akan mendapatkan rekomendasi tanggal dari Skyscanner untuk akhir pekan lainnya, serta berbagai penawaran wisata akhir pekan dengan penawaran harga termurah di berbagai kota nusantara Indonesia dan luar negeri.

3. “Penawaran Terbaik Berdasarkan Bulan”. Fitur yang yang menyediakan destinasi di berbagai kota dan negera berdasarkan periode bulan terbaik yang sahabat pembaca pilih. Mau ke Korea, Australia, Jepang, atau negara lainnya bisa sahabat pembaca nikmati dengan estimasi harga terendah. Yuk pilih bulan terbaikmu untuk liburan.
Semua layanan SKYSCANNER bisa saya nikmati secara gratis, and then membuat saya ketagihan untuk traveling ke berbagai kota tanpa takut ribet seperti ribetnya perjalanan pertama kali saya ke Tana Toraja. 6 bulan berikutnya, terhitung sejak pulang dari Tana Toraja, saya sudah punya perencanaan terbaik untuk liburan ke Pulau Jawa.

Melalui SKYSCANNER saya bisa langsung bergabung bersama 60 juta pelancong Skyscanner di seluruh dunia. Setelah wisuda pun saya benar-benar bisa merasakan liburan ke Surabaya, Malang dan Jogjakarta loh. Anti ketinggalan promo pesawat murah pun saya dapatkan dari aplikasi ini, karena Skyscanner juga sediakan tips agar kita bisa dengan mudah mendapatkan tiket promo Garuda Indonesia.

Liburan ke Surabaya, Malang dan Jogjakarta
Lagi-lagi hanya pakai SKYSCANNER karena perbandingan harga tiket pesawat, akomondasi seperti hotel, bahkan sewa mobil cuma bisa saya peroleh di aplikasi ini. Untuk maskapai penerbangan, lagi-lagi saya hanya melirik maskapai Garuda Indonesia, hehehe bukan karena saya tidak akan dibiarkan kelaparan saya duduk di pesawat ini. Adanya kesan terbaik yang diberikan ketika pertama kali menggunakan maskapai ini, serta jadwal penerbangan yang tepat waktu dan amanlah yang membuat saya hanya selalu memesan tiket pesawat Garuda Indonesia. Pokoknya bagi sahabat pembaca yang sudah sering menggunakan maskapai penerbangan ini pasti tak asing lagi dengan kenyamanan-kenyamanan yang diberikan. Bagi yang belum pernah naik maskapai penerbangan Garuda Indonesia, segera rencanakan liburan kalian dan telisik sampai ke sudut-sudut nusantara bersama SKYSCANNER dan pilihlah penerbangan dengan tiket pesawat Garuda Indonesia.
***


Semua dokumentasi gambar dalam artikel ini adalah milik pribadi penulis.


D I S C L A I M E R :